Kamis, 31 Desember 2009

Bahaya Penggunaan Tambalan Gigi Perak

Bahaya Penggunaan Tambalan Gigi Perak






Tambalan gigi berwana perak mungkin berbahaya bagi wanita hamil, janin dan anak-anak karena kandungan Merkuri di dalam tambalan gigi tersebut, demikian yang dikatakan Badan Pengawas Makanan dan Obat-obatan Amerika (FDA) dalam pernyataannya beberapa waktu lalu. Pernyataan ini dikeluarkan setelah menyelesaikan sebuah tuntutan perkara yang diajukan oleh beberapa pengacara konsumen.

FDA mengeluarkan pesan peringatan bagi para konsumen mengenai resiko penggunaan tambalan silver pada gigi di situs web FDA. Pada Juli 2009, FDA engeluarkan aturan-aturan yang lebih spesifik mengenai tambalan gigi yang mengandung Merkuri.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa ada jutaan masyarakat di dunia yang memiliki tambalan logam dengan kandungan Merkuri di mulut mereka. Tambalan jenis ini disebut Amalgam. Amalgam dapat menghasilkan efek racun pada sistem saraf janin dan anak-anak.

Amalgam merupakan tambalan gigi yang sering dipakai dan sudah digunakan selama lebih dari 150 tahun. Merupakan campuran merkuri dengan sedikitnya satu jenis logam lain. Saat ini, tambalan amalgam terkomposisi dari 40% Merkuri, dan 60 persen bubuk di mana bubuk ini terbuat dari campuran Perak (sekitar 62%), Timah (sekitar 26%), tembaga (sekitar 10%) dan besi (2%). Amalgam memiliki banyak keuntungan dibanding bahan tambalan lain, seperti biaya yang rendah, kekuatan, daya tahan, dan efek kekebalan terhadap bakteri.

Yang disayangkan dari penggunaan Amalgam adalah tampilannya yang kurang menarik apabila dipasang di gigi depan dan kandungan Merkuri yang dimilikinya. Kekhawatiran mengenai kemungkinan dampak yang ditimbulkan Amalgam terhadap kesehatan gigi, menyebabkan para pakar gigi beberapa tahun ini sudah mengurangi penggunaan Amalgam pada tambalan gigi.

Amalgam merupakan bahan penguat serbaguna dan digunakan dalam ilmu kedokteran gigi pada beberapa kasus. Harganya tergolong murah dan relatif mudah digunakan dan dimanipulasi selama proses pemasangan, setelah ditempelkan pada gigi dalam waktu singkat bahan tetap lunak sehingga dapat mengisi lubang dalam volume besar, kemudian nantinya bahan ini sendiri akan mengeras.

Amalgam dikenal lebih awet dibanding bahan penguat lainnya, seperti bahan campuran. Rata-rata, Amalgam dapat bertahan hingga 10-12 tahun, sementara campuran lain hanya dapat bertahan separuh dari masa bertahan amalgam. Namun, dengan perbaikan terus-menerus dalam pengetahuan bahan campuran dan pemahaman yang lebih baik mengenai kepekaan teknik pemasangan, seharusnya perbedaan tersebut akan semakin berkurang.

Tambalan Amalgam dikenal sebagai bahan dengan kandungan Merkuri rendah, dan kekhawatiran mengenai apakah hal ini berdampak pada kesehatan yang memburuk, seperti migrain, eretisme, dan pengerasan otak, semakin meningkat. Pada Tahun 2008, tambalan Amalgam sudah dibatasi penggunaannya di Swedia, Norwegia dan Finlandia, dewan FDA sendiri menolak untuk mengesahkan tuntutan keselamatan. (Epochtimes/val)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar