Senin, 04 Januari 2010
Senyawa Kompleks....%#
Studi mengenai senyawa kompleks logam transisi menjadi sangat menarik terkait sifat kimianya yang dapat diaplikasikan sebagai katalis. Sifat-sifat logam pusat seperti muatan, tingkatan oksidasi, konfigurasi elektron dan geometri akan memberikan pengaruh pada reaktifitas senyawa kompleks tersebut.
Katalis senyawa kompleks logam transisi dengan rumus umum [M(L)n]x[A]y dimana M adalah ion logam pusat, L adalah ligan lemah dan A adalah anion lawan berdaya koordinasi lemah atau sama sekali non koordinasi, beberapa diantaranya telah diaplikasikan sebagai katalis dalam reaksi kimia organik. Reaktifitas senyawa kompleks logam transisi ini sebagai katalis muncul disebabkan oleh karena dua hal.
Pertama, ligan lemah yang terikat pada ion logam pusat dapat dengan mudah disubsitusi atau digantikan kedudukannya oleh substrat. Kedua, anion lawan yang berdaya koordinasi lemah atau sama sekali non koordinasi yang merupakan suatu asam lewis kuat, dapat meningkatkan keasaman lewis dari logam pusat. Keasaman diperlukan untuk menarik substrat agar terikat ke pusat aktif logam.
Beberapa senyawa kompleks tembaga(II) seperti [Cu(NCCH3)6][B(C6F5)4]2 dan [Cu(NCCH3)6][BF4]2 dilaporkan telah berhasil disintesis dan diaplikasikan pada reaksi kimia organik seperti aziridinasi dan siklopropanasi berbagai senyawa olefin pada tempratur ruang baik pada fasa homogen maupun heterogen. Pada fasa homogen, katalis-katalis ini menunjukkan hasil yang memuaskan dengan rendemen hasil dan selektifitas yang tinggi. Sedangkan pada fasa heterogen katalis-katalis ini menunjukkan penurunan aktifitas setelah digunakan untuk beberapa kali reaksi. Meski demikian, katalis homogen masih memiliki beberapa kelemahan seperti sulitnya pemisahan dari produk, serta akumulasi logam dan ligan yang bersifat toksik dari senyawa komplek logam transisi yang dapat mecemari lingkungan.
Sabtu, 02 Januari 2010
Diagram Energi HCl
Molecular Orbital Energy Levels Diagram
HCl is a simple heteronuclear diatomic molecule. The valence ao’s for this molecule are simply the H 1s and the 3s, 3px, 3py, 3pz ao’s of chlorine.
This following are the molecular orbital energy levels diagram of hydrogen chloride....
(3s)2 (σ3px)2 (π3py)2 (π3pz)2 (σ3p*)
And shows three lone pairs (the 3s and pπn pairs) and one bond pair (from pσ)
Kristal logam & Kristal ionik
Kisi kristal logam terdiri atas atom logam yang terikat dengan ikatan logam. Elektron valensi dalam atom logam mudah dikeluarkan (karena energi ionisasinya yang kecil) menghasilkan kation. Bila dua atom logam saling mendekat, orbital atom terluarnya akan tumpang tindih membentuk orbital molekul. Bila atom ketiga mendekati kedua atom tersebut, interaksi antar orbitalnya terjadi dan orbital molekul baru terbentuk. Jadi, sejumlah besar orbital molekul akan terbentuk oleh sejumlah besar atom logam, dan orbital molekul yang dihasilkan akan tersebar di tiga dimensi.
Karena orbital atom bertumpangtindih berulang-ulang, elektron-elektron di kulit terluar setiap atom akan dipengaruhi oleh banyak atom lain. Elektron semacam ini tidak harus dimiliki oleh atom tertentu, tetapi akan bergerak bebas dalam kisi yang dibentuk oleh atom-atom ini. Jadi, elektron-elektron ini disebut dengan elektron bebas.
Sifat-sifat logam yang bemanfaat seperti kedapat-tempa-annya, hantaran listrik dan panas serta kilap logam dapat dihubungkan dengan sifat ikatan logam. Misalnya, logam dapat mempertahankan strukturnya bahkan bila ada deformasi. Hal ini karena ada interaksi yang kuat di berbagai arah antara atom (ion) dan elektron bebas di sekitarnya (Gambar 8.8).
Gambar 8.8 Deformasi sruktur logam.Logam akan terdeformasi bila gaya yang kuat diberikan, tetapi logam tidak akan putus. Sifat ini karena interaksi yang kuat antara ion logam dan elektron bebas.
Kilap logam diakibatkan oleh sejumlah besar orbital molekul kristal logam. Karena sedemikian banyak orbital molekul, celah energi antara tingkat-tingkat energi itu sangat kecil. Bila permukaan logam disinari, elektron akan mengabsorbsi energi sinar tersebut dan tereksitasi. Akibatnya, rentang panjang gelombang cahaya yang diserap sangat lebar. Bila elektron yang tereksitasi melepaskan energi yang diterimanya dan kembali ke keadaan dasar, cahaya dengan rentang panjang gelombang yang lebar akan dipancarkan, yang akan kita amati sebagai kilap logam.
>Kristal ionik
Kristal ionik semacam natrium khlorida (NaCl) dibentuk oleh gaya tarik antara ion bermuatan positif dan negatif. Kristal ionik biasanya memiliki titik leleh tinggo dan hantaran listrik yang rendah. Namun, dalam larutan atau dalam lelehannya, kristal ionik terdisosiasi menjadi ion-ion yang memiliki hantaran listrik.
Biasanya diasumsikan bahwa terbentuk ikatan antara kation dan anion. Dalam kristal ion natrium khlorida, ion natrium dan khlorida diikat oleh ikatan ion. Berlawanan dengan ikatan kovalen, ikatan ion tidak memiliki arah khusus, dan akibatnya, ion natrium akan berinteraksi dengan semua ion khlorida dalam kristal, walaupun intensitas interaksi beragam. Demikian juga, ion khlorida akan berinteraksi dengan semua ion natrium dalam kristal.
Susunan ion dalam kristal ion yang paling stabil adalah susunan dengan jumlah kontak antara partikel bermuatan berlawanan terbesar, atau dengan kata lain, bilangan koordinasinya terbesar. Namun, ukuran kation berbeda dengan ukuran anion, dan akibatnya, ada kecenderungan anion yang lebih besar akan tersusun terjejal, dan kation yang lebih kecil akan berada di celah antar anion.
Dalam kasus natrium khlorida, anion khlorida (jari-jari 0,181 nm) akan membentuk susunan kisi berpusat muka dengan jarak antar atom yang agak panjang sehingga kation natrium yang lebih kecil (0,098 nm) dapat dengan mudah diakomodasi dalam ruangannya (Gambar 8.9(a)). Setiap ion natrium dikelilingi oleh enam ion khlorida (bilangan koordinasi = 6). Demikian juga, setiap ion khlorida dikelilingi oleh enam ion natrium (bilangan koordinasi = 6) (Gambar 8.9(b)). Jadi, dicapai koordinasi 6:6.

Masing-masing ion dikelilingi oleh enam ion yang muatannya berlawanan.
Struktur ini bukan struktur terjejal.

Setiap ion dikelilingi oleh delapan ion dengan muatan yang berlawanan.
Struktur ini juga bukan struktur terjejal.
Kamis, 31 Desember 2009
Platina sebagai anti kanker
AVASTIN ( R ) PEROLEH OPINI POSITIF DI EROPA UNTUK PENGOBATAN PERTAMA PENGIDAP KANKER PARU STADIUM LANJUT
Obat Pertama Terbukti Memperpanjang Kelangsungan Hidup Pasien yang Sebelumnya
Tak Terobati Setelah Satu Tahun
Basel, 20 Juli (PRNewswire/AsiaNet) — Roche hari ini mengumumkan bahwa
Komite Eropa Produk Obat untuk Manusia (CHMP) mengeluarkan rekomendasi positif
bagi penggunaan pertama Avastin dalam pengobatan bentuk tersering kanker paru,
bersama dengan kemoterapi berbasis platina.(*). Keputusan CHMP ini berdasarkan
data dari kajian penting di AS (E4599) dan kajian lain Avastin dalam Paru-paru
(AVAiL) tahap III yang sama-sama menunjukkan bahwa Avastin ampuh bersama dengan
jajaran luas kemoterapi.
Kanker paru mengakibatkan lebih dari 3.000 kematian setiap hari di seluruh
dunia(1) dan kanker paru non-sel kecil (NSCLC) merupakan bentuk tersering
penyakit ini yang mencakup lebih dari 80 persen dari semua kanker paru .(2)
Avastin adalah satu-satunya pengobatan pertama dalam lebih dari satu dekade
yang telah terbukti memperpanjang umur pengidap kanker paru stadium lanjut di
mana penderita biasanya memiliki rata-rata harapan hidup hanya 8 hingga 10
bulan.
“Ini merupakan hari yang cukup penting bagi para dokter dan penderita
karena ia memberi kemudahan memperoleh Avastin, dengan kemampuannya yang teruji
memperpanjang umur pada penyakit yang sangat sulit diobati, selangkah lebih
maju menuju kenyataan,” kata Profesor Christian Manegold, Gurubesar Kedokteran
Universitas Heidelberg, Pusat Kedokteran Universitas, Mannheim, Jerman
sekaligus Kepala Peneliti kajian AVAiL. “Saya percaya bahwa Avastin obat
inovatif yang tidak hanya akan mengubah standar pengobatan terkini NSCLC, tapi
juga akan memperbaiki harapan kami akan kesembuhan penderita.”
Avastin adalah obat anti-angiogenik pertama dan satu-satunya yang telah
terbukti tetap meningkatkan kelangsungan hidup keseluruhan dan/atau bebas
perkembangan penyakit penderita kanker kolorektal, paru, payudara, dan ginjal.
“Opini CHMP ini merupakan kabar gembira bagi orang-orang Eropa yang
mengidap penyakit yang ganas dan melumpuhkan,” ujar William M. Burns, Kepala
Eksekutif Divisi Obat Roche. “Dengan pengembangan program Avastin kami – yang
merupakan program ujicoba terbesar dalam onkologi – kami akan terus
mengembangkan pendekatan pengobatan sebaik mungkin guna meningkatkan
kelangsungan hidup dan memperbaiki mutu kehidupan penderita kanker.”
Di Eropa, Avastin disetujui sebagai pengobatan pertama penderita kanker
kolorektal metastatik pada Januari 2005 dan di AS pada Februari 2004. Ia
memperoleh persetujuan lagi di AS pada Juni 2006 sebagai pengobatan kedua
penderita kanker kolorektal metastatik. Pada Oktober 2006, menyusul kajian
ulang yang didahulukan, zat penghambat angiogenesis pertama dunia disetujui
oleh FDA untuk pengobatan NSCLC. Baru-baru ini pada April 2007, Avastin
disetujui di Eropa untuk pengobatan pertama wanita penderita kanker payudara
metastatik dan di Jepang untuk penggunaan pada kanker kolorektal stadium lanjut
atau kambuhan.
Tentang kajian Tahap III yang membentuk bagian dari paket data yang
diserahkan kepada CHMP
Kajian E4599
Hasil-hasil kajian E4599 tahap III multicentre terkontrol acak atas 878
penderita kanker paru non-sel kecil (NSCLC) stadium lanjut lokal, metastatik
atau kambuhan, dengan histology selain dari sel bersisik yang lebih menonjol,
menunjukkan bahwa kelangsungan hidup rata-rata penderita yang diobati dengan
Avastin pada dosis 15 mg/kg setiap tiga pekan ditambah kemoterapi lamanya 12,3
bulan, dibandingkan dengan 10,3 bulan untuk penderita yang diobati dengan
kemoterapi saja. Pasien yang mendapat Avastin pada dosis 15mg.kg setiap tiga
pekan plus paclitaxel dan carboplatin mengalami peningkatan kelangsungan hidup
keseluruhan 25 persen, dibandingkan dengan penderita yang mendapat kemoterapi
saja. Efek samping biasanya dapat dikendalikan. Kasus perdarahan paru
(haemoptysis) tampak pada 2,3 persen pasien yang mendapat Avastin plus
kemoterapi. Efek samping merugikan terapi tunggal Avastin yang tersering
adalah: hipertensi (5,6 persen), proteinuria (4,2 persen), kelelahan (5,1
persen) dan dyspnoea (5,6 persen).(3)
Kajian AVAiL
Dalam kajian AVAiL tahap III terkontrol acak yang hasilnya sama-sama tidak
diketahui subyek maupun obyek ini, pasien mendapat pengobatan Avastin pada
7,5mg/kg atau 15mg/kg + cisplatin/gemcitabine atau plasebo +
cisplatin/gemcitabine. Kajian ini melibatkan lebih dari 1.000 penderita di
seluruh dunia yang mengidap NSCLC yang sebelumnya tak terobati, dengan
histology selain dari sel bersisik yang lebih menonjol. Hasil-hasilnya
menunjukkan bahwa dengan menambahkan Avastin pada pemberian
cisplatin/gemcitabine, kelangsungan hidup bebas perkembangan penyakit
diperpanjang secara signifikan sebesar 20 hingga 30 persen dibandingkan dengan
kemoterapi saja. Tidak tampak adanya efek samping merugikan baru atau tak
diharapkan.
Metode penelitian meliputi penentuan posisi, karakteristik pantai dan analisis emas. Analisis emas dikerjakan langsung di lapangan secara konvensional dengan menerapkan pendekatan metode yang dilakukan oleh penambang tradisional, antara lain meliputi: pengambilan sedimen untuk perangkapan konsentrat, ekstraksi emas dan pembakaran. Penentuan posisi untuk pengambilan data dilakukan dengan menggunakan perangkat “global positioning system” jenis Garmin III PLUS. Dalam penelitian ini secara garis besar diulas mengenai karakteristik pantai dengan pendekatan metode tidak langsung dan langsung. Metode tidak langsung dilakukan dengan cara penelaahan topografi, citra satelit dan kondisi fisik geologi. Metode langsung dilakukan dengan uji lapangan secara deskriptif kualitatif terhadap aspek geologi, relief, karakteristik garis pantai dan proses dominan (Dolan dan rekan-rekan, 1975). Pengambilan sedimen untuk perangkapan konsentrat dilakukan di atas kemiringan karpet dengan mengalirkan air ke dalam kotak kayu yang diisi sedimen (gambar 1). Pengambilan berat asal setiap percontoh bervariasi, bergantung kepada kondisi lapangan, terutama cuaca dan kedudukan muka laut akibat pasangsurut. Salah satu ekstraksi emas yang dilakukan yaitu penyelaputan partikel emas oleh air raksa dengan cara mendulang, setelah terlebih dahulu konsentratnya diberi merkuri (air raksa) yang diaduk sampai merata atau disebut sebagai amalgamasi. Dalam amalgamasi, air raksanya dapat diperoleh kembali setelah dilakukan penyaring dan diperas menggunakan kain kasa, dan yang tetap tertinggal membentuk amalgam.
Pembakaran amalgam dilakukan di atas sebuah mangkuk (retort) setelah terlebih dahulu ditaburi serbuk putih (alumina oksida) untuk mengikat. Merkuri (Hg) akan hilang terbakar, bulion emas dan ikutannya (perak) tetap tertinggal sebagai logam. Amalgamasi merupakan salah satu ekstraksi emas proses kimia fisika yang paling sederhana dan murah.
Bahaya Penggunaan Tambalan Gigi Perak
Tambalan gigi berwana perak mungkin berbahaya bagi wanita hamil, janin dan anak-anak karena kandungan Merkuri di dalam tambalan gigi tersebut, demikian yang dikatakan Badan Pengawas Makanan dan Obat-obatan Amerika (FDA) dalam pernyataannya beberapa waktu lalu. Pernyataan ini dikeluarkan setelah menyelesaikan sebuah tuntutan perkara yang diajukan oleh beberapa pengacara konsumen.
FDA mengeluarkan pesan peringatan bagi para konsumen mengenai resiko penggunaan tambalan silver pada gigi di situs web FDA. Pada Juli 2009, FDA engeluarkan aturan-aturan yang lebih spesifik mengenai tambalan gigi yang mengandung Merkuri.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa ada jutaan masyarakat di dunia yang memiliki tambalan logam dengan kandungan Merkuri di mulut mereka. Tambalan jenis ini disebut Amalgam. Amalgam dapat menghasilkan efek racun pada sistem saraf janin dan anak-anak.
Amalgam merupakan tambalan gigi yang sering dipakai dan sudah digunakan selama lebih dari 150 tahun. Merupakan campuran merkuri dengan sedikitnya satu jenis logam lain. Saat ini, tambalan amalgam terkomposisi dari 40% Merkuri, dan 60 persen bubuk di mana bubuk ini terbuat dari campuran Perak (sekitar 62%), Timah (sekitar 26%), tembaga (sekitar 10%) dan besi (2%). Amalgam memiliki banyak keuntungan dibanding bahan tambalan lain, seperti biaya yang rendah, kekuatan, daya tahan, dan efek kekebalan terhadap bakteri.
Yang disayangkan dari penggunaan Amalgam adalah tampilannya yang kurang menarik apabila dipasang di gigi depan dan kandungan Merkuri yang dimilikinya. Kekhawatiran mengenai kemungkinan dampak yang ditimbulkan Amalgam terhadap kesehatan gigi, menyebabkan para pakar gigi beberapa tahun ini sudah mengurangi penggunaan Amalgam pada tambalan gigi.
Amalgam merupakan bahan penguat serbaguna dan digunakan dalam ilmu kedokteran gigi pada beberapa kasus. Harganya tergolong murah dan relatif mudah digunakan dan dimanipulasi selama proses pemasangan, setelah ditempelkan pada gigi dalam waktu singkat bahan tetap lunak sehingga dapat mengisi lubang dalam volume besar, kemudian nantinya bahan ini sendiri akan mengeras.
Amalgam dikenal lebih awet dibanding bahan penguat lainnya, seperti bahan campuran. Rata-rata, Amalgam dapat bertahan hingga 10-12 tahun, sementara campuran lain hanya dapat bertahan separuh dari masa bertahan amalgam. Namun, dengan perbaikan terus-menerus dalam pengetahuan bahan campuran dan pemahaman yang lebih baik mengenai kepekaan teknik pemasangan, seharusnya perbedaan tersebut akan semakin berkurang.
Tambalan Amalgam dikenal sebagai bahan dengan kandungan Merkuri rendah, dan kekhawatiran mengenai apakah hal ini berdampak pada kesehatan yang memburuk, seperti migrain, eretisme, dan pengerasan otak, semakin meningkat. Pada Tahun 2008, tambalan Amalgam sudah dibatasi penggunaannya di Swedia, Norwegia dan Finlandia, dewan FDA sendiri menolak untuk mengesahkan tuntutan keselamatan. (Epochtimes/val)
Terdapat cukup banyak jenis material yang dapat digunakan untuk menambal gigi, namun yang umum digunakan di Indonesia, salah satunya adalah amalgam. Masing-masing bahan memiliki indikasi, kelebihan dan kekurangan, jadi tidak semua kasus dapat ditambal dengan bahan manapun.
Secara umum tambalan gigi dapat digolongkan menjadi dua yaitu direct restoration dan indirect restoration.
Direct restorations adalah tambalan yang secara langsung dikerjakan oleh dokter gigi pada gigi pasien di dental unit, tanpa membutuhkan proses pengerjaan di laboratorium.
Amalgam
Amalgam adalah bahan tambal berbahan dasar logam, di mana komponen utamanya:
• likuid yaitu logam merkuri
• bubuk yaitu logam paduan yang kandungan utamanya terdiri dari perak, timah, dan tembaga. Selain itu juga terkandung logam-logam lain dengan persentase yang lebih kecil.
Kedua komponen tersebut direaksikan membentuk tambalan amalgam yang akan mengeras, dengan warna logam yang kontras dengan warna gigi.

Kelebihan :
• Dapat dikatakan sejauh ini amalgam adalah bahan tambal yang paling kuat dibandingkan dengan bahan tambal lain dalam melawan tekanan kunyah, sehingga amalgam dapat bertahan dalam jangka waktu yang sangat lama di dalam mulut (pada beberapa penelitian dilaporkan amalgam bertahan hingga lebih dari 15 tahun dengan kondisi yang baik) asalkan tahap-tahap penambalan sesuai dengan prosedur.
• Ketahanan terhadap keausan sangat tinggi, tidak seperti bahan lain yang pada umumnya lama kelamaan akan mengalami aus karena faktor-faktor dalam mulut yang saling berinteraksi seperti gaya kunyah dan cairan mulut.
• Penambalan dengan amalgam relatif lebih simpel dan mudah dan tidak terlalu “technique sensitive” bila dibandingkan dengan resin komposit, di mana sedikit kesalahan dalam salah satu tahapannya akan sangat mempengaruhi ketahanan dan kekuatan bahan tambal resin komposit.
• Biayanya relatif lebih rendah
Kekurangan :
• Dalam jangka waktu lama ada beberapa kasus di mana tepi-tepi tambalan yang berbatasan langsung dengan gigi dapat menyebabkan perubahan warna pada gigi sehingga tampak membayang kehitaman
• Pada beberapa kasus ada sejumlah pasien yang ternyata alergi dengan logam yang terkandung dalam bahan tambal amalgam. Selain itu, beberapa waktu setelah penambalan pasien terkadang sering mengeluhkan adanya rasa sensitif terhadap rangsang panas atau dingin. Namun umumnya keluhan tersebut tidak berlangsung lama dan berangsur hilang setelah pasien dapat beradaptasi.
• Hingga kini issue tentang toksisitas amalgam yang dikaitkan dengan merkuri yang dikandungnya masih hangat dibicarakan. Pada negara-negara tertentu ada yang sudah memberlakukan larangan bagi penggunaan amalgam sebagai bahan tambal.
Indikasi : Gigi molar (geraham) yang menerima beban kunyah paling besar, dapat digunakan baik pada gigi tetap maupun pada anak-anak.

